Dinas Perdagangan Bareng Komisi B DPRD Tolitoli Sidak Soal Gula Bersubsidi

Dinas Perdagangan Bareng Komisi B DPRD Tolitoli Sidak Soal Gula Bersubsidi

Tolitoli, alasannews.id.---- Operasi mendadak (Sidak) Dinas Perdagangan Dan Komisi B DPRD Tolitoli, dimaksudkan menyahuti laporan warga naiknya harga Gula Bersubsidi di tingkat pengecer dalam Kota. Kadis Perdagangan Tolitoli, Yustianto Bantilan kepada alasannews.id mengatakan, di tengah pandemi covid-19 saat ini memang serba tak menentu sehingga kadang pedagang mengambil kesempatan menaikkan harga bahan pohok termasuk Gula. Olehnya kata Kadis, Dewan Kabupaten begitu menerima laporan langsung mensikapinya dengan melibatkan dinas dan Pol PP dalam mengecek perkembangan di Lapangan. Disebutkan, oleh Djumsar anggota DPRD Tolitoli bahwa Sidak tersebut kami lakukan dengan mengikuti data Pemerintah Provinsi Sulteng terkait dengan Jalur Distribusi gula bersubsidi yang dimana terdapat 5 Toko didaerah yang ditunjuk sebagai penerima gula bersubsidi tersebut antara lain Toko Hakuna Matata, Toko Asia Raya, Toko Sederhana Soni, Toko Santika dan Toko Gerai Mandiri. Gula bersubsidi memiliki harga eceran tertinggi senilai Rp. 13.500/Kilo, nilai ini diperoleh dari harga gula per sak yang diterima dari distributor palu senilai Rp. 615.000/sak dengan harga gula subsidi per kg senilai Rp. 12.500,00/Kg. Dari hasil sidak kami dilapangan, kami menemukan harga gula bersubsidi yang masuk Tolitoli via jalur distributor Palu tetap seharga Rp.615.000/sak, yang dimana para toko penerima di Tolitoli kembali menjualnya dengan rentan harga antara Rp. 675.000-Rp. 680.000/sak. Dari sini sebenarnya telah terjadi pelanggaran dalam penjualan. Jika menggunakan kalkulasi harga eceran tertinggi(HET), maka seharusnya pedagang toko hanya boleh menjual senilai Rp. 675.000/sak, tidak boleh lebih. Karena jika Rp. 675.000 : 50kg(berat 1 sak gula) = Rp. 13.500 yang dimana harga ini sudah sesuai. Berarti jika penjualan melebihi harga tersebut, berarti terdapat keuntungan berlebih yang diterima oleh toko, yang dimana hal ini melanggar het yang ditetapkan pemprov sendiri. Penggunaan harga HET senilai Rp. 13.500 sebenarnya sudah sangat menguntungkan bagi para pedagang toko, sebagai contoh jika toko Hakuna Matata memperoleh jatah 480 sak oleh distributor provinsi, maka kita tinggal mengurangi harga persak yang dijual oleh pedagang toko di daerah dengan harga yang diberikan oleh distributor provinsi kepada toko, dengan penjelasan ringkas berikut -Untung toko/sak = harga distri-harga jual toko = Rp. 675.000-Rp.615.000 = Rp. 60.000/sak -untung 480sak = 480 x Rp.60.000,00 = Rp.28.800.000,00 Pedagang toko juga mengeluhkan bahwa mereka juga masih menanggung ongkos kirim dari palu senilai Rp. 17.500 s/d Rp. 20.000/karung. namun menurut saya hal ini tetap saja memberi untung yang besar, dengan uraian berikut : -untung persak - ongkir palu = Rp.60.000-Rp.20.000 = Rp.40.000 Untung bersih pedagang toko = -480 sak × Rp. 40.000 = Rp. 19.200.000,00 Jadi penambahan dengan nominal sedikitpun akan sangat berpengaruh terhadap harga jual para pedagang ecer, yang mengakibatkan harga gula bersubsidi tetap mahal dipasaran, yang seharusnya para pengecer dapat menjual gula bersubsidi diharga maksimal Rp.15.000,00/Kg. Tidak sampai disitu, kami juga mendapatkan toko yang telah berubah nama dan belum mengantongi izin usaha, yaitu toko gerai mandiri(sebelumnya merupakan toko hakuna matata, bertempat didepan lapas tambun). Hal ini tentu saja merupakan pelanggaran, mengingat toko tersebut juga termasuk salah satu penerima gula bersubsidi dari distributor palu. Melihat kejadian tersebut, harusnya para pedagang toko taat pada peraturan, mengingat toko tersebut telah beroperasi selama satu bulan lebih. Begitu pun sebaliknya, seharusnya dinas perdagangan kabupaten Tolitoli dapat dengan segera mengatasi permasalahan seperti ini atau memberi sanksi yang tegas sebagai efek jera bagi para pedagang toko yang nakal dalam menjalankan usahanya. Sebenarnya melonjaknya harga gula bersubsidi ini juga merupakan kesalahan pemerintah provinsi dan kabupaten yang lambat dalam koordinasi, menurut penjelasan dinas perdagangan kabupaten, data terkait masuknya gula bersubsidi baru diberitahukan oleh provinsi pada saat bulan suci ramadhan. Sementara menurut para pedagang toko, gula tersebut telah masuk sebelum bulan suci ramadan. Hal ini menyebabkan pemerintah daerah dalam hal ini dinas perdagangan kecolongan dalam hal pengawasan peredaran gula bersubsidi tersebut. Kedepannya sebagai evaluasi, kegiatan sidak semacam ini perlu untuk rutin dilakukan utamanya pada saat menjelang perayaan hari-hari besar. Diharapkan agar harga kebutuhan pokok dimasyarakat tetap dapat terpantau dan berada dibatas yang sudah ditetapkan oleh pemerintah itu sendiri. Dan kami menghimbau kepada para pedagang toko maupun pengecer untuk lebih bijaksana dalam menyikapi harga subsidi yang diberlakukan oleh pemerintah. Hal ini tentu saja agar masyarakat tidak perlu merasa khawatir dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok, utamanya disaat-saat penyebaran penyakit pandemi saat ini. Sebagai akhir, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses sidak tersebut. Dan kami memohon maaf bila dalam proses perjalanan ada kata dan perilaku yang kurang berkenan dihati kawan-kawan sekalian. Dan tak lupa mengingatkan kepada seluruh masyarakat Tolitoli untuk senantiasa menjaga kesehatan, menggunakan masker saat bepergian, mencuci tangan dengan sabun dan tetap berada dirumah sebagai ikhtiar kita dalam menekan penyebaran virus Covid-19.

Author’s Posts