Ciri Orang Munafik

Ciri Orang Munafik Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I DI antara ayat Alquran yang paling membicarakan sifat orang munafik adalah ayat yang terdapat dalam surah At -Taubah. Makanya surah ini juga disebut Al Fadhikhah (Surah yang menyingkap rahasia orang – orang munafik). Ada yang disebut Nifaq Amali yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam namun ini sangat berbahaya karena nifaq yang kecil merupakan wasilah yang bisa mengantarkan seseorang kepada Nifaq Akbar, olehnya jangan kita meremehkan dosa – dosa kecil karena sesungguhnya gunung itu berasal dari tumpukan batu – batu kecil, jangan kita mengatakan: ”Ini hanya kecil dan seterusnya”, dosa juga demikian jangan dianggap remeh, perkataan salah seorang salaf:”Jangan engkau melihat besar kecilnya sebuah dosa tapi hendaknya engkau melihat kepada siapa engkau melakukan dosa itu.” Anas bin Malik pernah berkata kepada tabi’in: ”Kalian mengerjakan sebuah amalan yang tercela yang kalian menganggapnya lebih ringan dan enteng dari selembar rambut namun kami menganggapnya di zaman Nabi SAW termasuk perkara yang bisa membinasakan kami”, orang yang beriman ketika ia mengerjakan dosa sekecil apapun itu ia melihat dirinya seakan ia berdiri dibawah sebuah gunung yang setiap saat gunung itu akan menimpanya, namun orang munafik ketika mengerjakan sebuah dosa apapun dia hanya mengangapnya hanya seekor lalat yang hinggap dihidungnya kemudian ia tepis begitu saja. Adapun hadist yang kita bahas ini adalah tanda – tanda Nifaq Amali karena tidak sampai mengeluarkan seseorang dari islam tetapi ini harus hati – hati karena ini adalah contoh dan sifat yang merupakan bagian dosa besar. Sifat Pertama: Jika Berkata ia Bohong Di antara dosa besar adalah, Pertama: berdusta atas nama Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al-Isra : 36). Dan dusta yang paling berbahaya adalah dusta atas nama Allah ini sangat membahayakan para da’i olehnya seorang pendakwah harus berhati – hati terutama di dalam memberikan sebuah jawaban karena jawaban yang ia berikan itu atas nama Allah Subhanahu wata’ala, Anas bin Malik pernah didatangi utusan dari negeri Yaman di zaman dahulu dengan perjalanan yang jauh, beliau diutus oleh kaumnya dengan memberikan kepadanya upah untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepada Imam Malik, namun kebanyakan dari pertanyaan tersebut di jawab: ”Saya tidak tahu”, oleh Anas bin Malik , orang yang diutus ini berkata: ”Apa yang akan aku katakan kepada kaumku jika aku kembali, saya sudah capek dari tempat yang jauh dan saya biayai kemudian saya cuma mendapatkan jawaban: ”Saya tidak tahu”, Imam Malik berkata: ”Sampaikan kepada mereka Anas bin Malik tidak tahu”, inilah yang menjadi penyakit di zaman sekarang dimana orang – orang malu ketika berkata:”Saya tidak tahu”, padahal perkataan saya tidak tahu adalah separuh dari ilmu dan Abdullah ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:”Siapa yang menjawab semua pertanyaan maka dia adalah orang gila”, harus orang yang memiliki ilmu yang menyampaikan jawaban apalagi yang menyangkut dengan persoalan agama akan dipertanggungjawabkan dihari kemudian. Oleh karenanya seorang ‘alim atau seorang ustadz ketika disodorkan sebuah pertanyaan dia harus menyelamatkan dirinya terlebih dahulu dari Allah sebelum dia menyelamatkan mukanya dari manusia. Jika saja malaikat ditanya dan mereka belum mengetahui jawabannya maka malaikat berkata:”Subhanallah, kami tidak memiliki ilmu kecuali yang engkau ajarkan kepada kami”, Kedua: Berdusta Atas Nama Rasulullah Dari Al Mughirah, ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka“. (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4). Ketiga: Berdusta Dalam Perkataan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. At-Taubah: 119). Puncak kejujuran adalah ketika anda melihat tidak ada yang menyelamatkan anda selain berdusta namun anda tetap berkata jujur. Sebab turunnya firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. At-Taubah: 119). Adalah pujian kepada Kaab bin Malik dan 2 sahabat yang lain yang tidak ikut dalam perang Tabuk sebagaimana kisahnya yang masyur dan kita ketahui bersama, beliau tidak berasalan beliau berkata:”Saya orang yang fasih bisa saja saya mencari – cari alasan tapi saya tidak mau jangan sampai Allah menurunkan ayat yang menyingkap aib saya”, bagaimanapun pandainya kita menyembunyikan sesuatu maka Allah akan menyingkapnya, manusia bisa kita bohongi tetapi Allah tidak bisa kita dustai, Allah berfirman: يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”. (QS. Al-Baqarah: 9). Sifat Kedua: Ketika Berjanji dia Menyelisihi Janjinya Pertama: ada orang yang berjanji memang niatnya tidak mau memenuhi janjinya bahkan terkadang dia menggunakan kata insyaAllah namun dalam hatinya dia niatkan untuk tidak menepatinya. Yang kedua: orang yang berjanji dan dia bertekad untuk memenuhi janjinya namun dia memiliki udzur maka ini dimaafkan namun dia harus menyampaikan kepada saudaranya. Sifat Ketiga: Ketika Diberi Amanah Dia Khianat Zaman ini adalah zaman dimana amanah itu mulai dicabut bahkan diantara ciri dan tanda akhir zaman kata Nabi adalah dicabutnya amanah sampai dikatakan dikampung itu masih ada orang yang amanah, maksud perkataan Nabi ini menunjukkan sudah sangat sedikit orang yang amanah dan kebanyakan pendusta atau pembohong dan ini telah digambarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara”. Ada yang bertanya:”Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab:”Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas“. (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah). [] SUMBER: MIM

Author’s Posts