The Power Emak--emak

The Power Emak--emak

Jakarta-- Indahnya menjadi Emak-emak. Awalnya terkait dengan bagaimana “the power emak-emak” yang dimiliki dan bekerja dengan cara yang tidak terduga dan sering berujung dengan mengesalkan. Selasa, 12/5/2020 Misalnya, untuk mengomentari seorang perempuan yang berkendara seenaknya sendiri, salah satunya dengan sein kiri tapi belok kanan.

Mengalahkan raja jalanan yang sesungguhnya. Walaupun pernah memiliki makna yang terkesan negatif, namun the power of emak-emak mengacu pada perempuan yang hebat, perempuan yang mandiri. Serta perempuan yang akan menjadi penentu kesuksesan bangsa ini. 

Enak = Ibu.

Ibu menjadi cermin baik dan tidaknya sebuah keluarga. Seorang ibu yang baik dan salehah tentu akan mengajarkan hal yang sama kepada anak-anaknya serta mampu menjadi seorang yang menyenangkan dan berbakti kepada suaminya. Seorang ibu selalu dibutuhkan, selalu dirasa sebagai sesuatu yang kurang jika tak terdapat sosoknya.

Sesungguhnya peran ibu bukan sebuah beban melainkan suatu kehormatan. Yakni berupa tugas mempersiapkan generasi muda yang unggul, berdaya saing, inovatif, kreatif, dan memiliki wawasan kebangsaan yang militan Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Giwo Rubianto menolak dengan tegas istilah the power of emak-emak.

Menurutnya, ibu di Indonesia telah memiliki panggilan istimewa, yakni Ibu Bangsa. Ia mengungkapkan bahwa perempuan Indonesia yang telah memiliki konsep Ibu Bangsa sejak tahun 1935, sebelum kemerdekaan. Sehingga ia menolak jika kemudian disebut sebagai emak-emak.

Padahal jika kita mengacu pada KBBI, sebenarnya tidak ada perbedaan makna dari panggilan-panggilan tersebut. Apakah karena perempuan-perempuan Kowani merupakan kaum terpandang, sehingga risih dengan sebutan emak yang terasa ndeso? Oke saya harap tidak.

Semoga memang ada alasan lainnya. Apakah karena Kowani merasa beda kelas? “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ ‘Ibumu!’ ‘Ibumu!, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari: 5971)

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa.” (QS. Al-Ahqaaf: 15)

Keutamaan menjadi ibu dalam Islam yang pertama ialah sebagai sosok yang mulia dii mata Allah yang telah diberi anugrah untuk mampu meneruskan keturunan dan mampu mengandung bayi hingga melahirkan, itupun masih dipilih oleh Allah yakni tidak semua wanita bisa mendapat keistimewaan tersebut. sebab itu menjadi seorang ibu wajib bersyukur dan berbahagia apalagi juga terdapat keutamaan doa seorang ibu yang mustajab. Wallahu'alambisshiwab. I love you Mom. "Penutup Kata dari seorang Ade Priatna Sobari". Selasa, 12/5/2020 Editor : Yuliana

Author’s Posts